MENJADI NU, MENJADI INDONESIA
Last Updated on Monday, 23 January 2012 04:54 Written by ninid Saturday, 21 January 2012 12:44
(Catatan Bedah Buku Pemikiran K.H. Muchith Muzadi)
Manusia sekarang dihadapkan pada dua peradaban . Yakni peradaban pasar, dimana keuntungan dan uang menjadi orientasi utama dalam berkehidupan. Yang kedua adalah, era IT yang menyelusup dalam seluruh sendi kehidupan sejak bangun sampai tidur lagi. Orang dihadapkan pada sebentuk wadag yang rigid, paperless, tanpa batas, tapi cerdas luar biasa. Kita menyebutnya sebagai paman Google.
Kehidupan manusia di masa depan bisa digambarkan seperti cyberworld dimana virtual community menjadi basic. Komunitas manusia, dimana mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di depan komputer dan internet, menjadi pemandangan yang jamak. Hal ini tentu saja berpengaruh pada tatanan nilai sosial masyarakat, apalagi masyarakat Indonesia yang dikenal sarat dengan kultur yang guyub, santun dan penuh gotong royong. Orang menjadi tidak butuh komunikasi sosial, karena semua sudah dipenuhi oleh media cyber itu.
Halnya dengan masyarakat Indonesia, ini tentu menjadi pertanyaan besar. Sejauh mana perkembangan itu merubah tatanan sosial ? Kultur masyarakat Indonesia masih dominan sebagai masyarakat dengan tradisi lisan yang kuat. Masyarakat yang masih suka mendengar dan berbicara ketimbang membaca dan menulis. Kita belum sampai pada tahapan masyarakat yang menjadikan buku sebagai konsumsi utama dan mengekspresikannya dalam tulisan, sebagai tradisi. Manakala internet hadir dalam kehidupan masyarakat seperti ini, maka terjadilah kesenjangan. Kesenjangan itu meliputi sejauh mana kemudahan itu bisa dikonsumsi. Apakah untuk menunjang perkembangan peradaban atau hanya untuk komoditas yang bersifat konsumtif saja ?
Kebiasaan membaca dan menulis sebagai prasyarat entitas masyarakat modern dalam pandangan Prof. Dr. Ayu Sutarto menjadi fase yang dilompati oleh masyarakat kita. Dari fase Kelisanan, masyarakat kita langsung melompat pada tahap konsumen informasi instant dunia maya. Secara mengejutkan, Dr. Ayu menyajikan fakta bahwa masyarakat Indonesia merupakan pengakses situs porno kedua terbesar di dunia.
Mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, hal ini sangat merisaukan. Meskipun tidak ada data mengenai latar belakang agama dalam riset tersebut, namun tak bisa dipungkiri bahwa ada nilai-nilai yang tidak sinkron berlaku dalam masyarakat kita. Antara ajaran dan tindakan, memisah dan bahkan berjarak. Ajaran yang seharusnya bisa membentuk watak masyarakat peradaban tinggal menjadi baju seremoni yang dikenakan pada saat-saat tertentu saja.
Disinilah sebenarnya organisasi massa keislaman seperti NU (Nahdlatul Ulama) memegang peranan penting. Sebagai ormas dengan jumlah massa terbesar, NU berperan penting mengawal nilai-nilai moral masyarakat agar tidak terjebak dalam perkembangan kehidupan yang konsumtif dan karitatif semata, tapi lebih pada penekanan identitas yang berpijak pada nilai dan tradisi asli.
Sejauh ini, menurut Ayu Sutarto, NU dikenal komit mengawal tradisi sehingga tetap bisa berjalan berdampingan dengan agama secara harmoni. NU tidak memperlihatkan taring untuk mengatakan bahwa Islam punya ajaran yang bertata nilai. NU bekerja secara kultural. Bahkan di berbagai daerah para pemimpin lokal NU bisa mengakomodir upacara adat yang diselenggarakan masyarakat. Cara kerja seperti ini sangat dibutuhkan oleh sebuah negara yang terdiri atas masyarakat yang sangat majemuk seperti Indonesia. Kemampuan untuk bersikap seimbang dan adaptif menjadi nilai plus bagi NU untuk melakukan perubahan. Perubahan yang memungkinkan masyarakat Indonesia hidup berdampingan tanpa saling menyakiti. Alangkah indahnya jika perubahan menuju peradaban Indonesia yang lebih baik bisa segerat terwujud.
(Disarikan dari ulasan Dr. Ayu Sutarto di MAN Tambakberas, 16 Januari 2012 dalam bedah buku yang diselenggarakan oleh siswa jurusan IPS dalam SSW (Social Scientic Week ))
By : nied






